Tak Mau Kalah dari Jakarta, Bogor Bakal Punya Kereta Modern Ini

Tak Mau Kalah dari Jakarta, Bogor Bakal Punya Kereta Modern Ini

Angkutan Umum kota Bogor. (Dok. Detikcom/Solihin)

Bogor kini dijuluki kota sejuta angkot. Sebutan kota hujan seakan lenyap karena banyaknya angkot.

Sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat yang terletak tidak jauh dari Jakarta, Bogor telah menjadi lokasi penyangga Jakarta dan terkenal memiliki alat transportasi angkutan kota atau angkot yang sangat banyak. Agar Bogor tidak lagi dikenal sebagai kota sejuta angkot, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, pemerintah Bogor saat ini sudah memiliki landskap program yang dinamakan Bogor Transportation Program sejak tahun 2014 lalu.

“Di mana studi https://38.180.114.193/ ini dibiayai juga oleh GIZ dari Jerman, salah satunya adalah memberikan rekomendasi. Karena Bogor itu ridership nya cukup tinggi, di mana ada KRL menghubungkan Jakarta dan Bogor dengan jumlah 400 trip per hari, mengangkut hampir 100.000 orang (per hari),” kata Dedie dalam Nation Hub CNBC Indonesia dikutip Sabtu (27/1/2024).

Oleh sebab itu, Dedie mengatakan pihaknya telah memberikan usulan agar Kota Bogor bisa memanfaatkan teknologi seperti moda transportasi tram, sebagai salah satu alternatif sistem transportasi massal berbasis rel di Kota Bogor.

“Ini sangat memungkinkan apabila kemudian kita menghubungkannya di dalam kota itu menggunakan sistem transportasi berbasis rel, atau seperti trem. Perkara nilainya Rp7 triliun tentu itu bertahap, karena kita merancang dibantu oleh Colas Rail dari Prancis. Kami juga berkomunikasi intens, baik dengan Kementerian Perhubungan, kemudian dengan PT INKA, juga PT KAI untuk bagaimana segera kita bisa mewujudkan rencana yang baik ini ke depan,” ujarnya.

Foto Kolase Trem dan Otonom atau Autonomous Rail Transit (ART). (Dok. Twoeggz.com dan Widoyoko)Foto: Foto Kolase Trem dan Otonom atau Autonomous Rail Transit (ART). (Dok. Twoeggz.com dan Widoyoko)
Foto Kolase Trem dan Otonom atau Autonomous Rail Transit (ART). (Dok. Twoeggz.com dan Widoyoko)

Pada dasarnya, lanjut dia, model kereta atau trem adalah bagaimana moda transportasi tersebut bisa mengangkut sebanyak mungkin penumpang. Dedie mengungkapkan, saat ini penduduk kota Bogor sendiri ada 1,1 juta jiwa.

“Nah, kami tentu pemerintah kota Bogor memiliki program yang menunjang ke sana, yang pertama adalah rerouting angkot, konversi angkot, dan reduksi angkot. Jadi Kota Bogor kan tidak ingin dikenal sebagai kota sejuta angkot terus, kita harus melakukan sebuah langkah yang cukup revolusioner untuk bagaimana kemudian membuat nyaman warga,” ujarnya.

Sementara, apabila ada dua pilihan, antara Tram atau Autonomous Rail Rapid Transit (ART) alias kereta tanpa rel, Dedie mengatakan pihaknya tentu akan juga melihat dari sisi pembiayaan dan lain sebagainya.

“Tapi ini menjadi bagian masukan, karena menurut Dirjen Perkeretaapian (Kementerian Perhubungan), memang harga ART lebih murah dibanding dengan tram berbasis rel. Jadi kita coba lihat dengan kita nanti coba kombinasikan dengan¬†feasibility study¬†yang sudah dilakukan oleh Colas Rail dari Prancis, yang menyatakan bahwa Kota Bogor rekomendasinya layak untuk menggunakan sarana angkutan berbasis rel yang namanya tram,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*