Sosok Kaya Raya Ini Dulu Jualan Telur & Bisnis Taksi Ilegal

Mutiara Djokosoeton. Ist

Nama Mutiara Djokosoetono dikenal sebagai pendiri perusahaan taksi ternama di Indonesia, Blue Bird Group. Namun, tak banyak yang mengetahui perjalanan wanita yang merupakan istri dari pakar hukum Indonesia dan dosen di Universitas Indonesia (UI), Djokosoetono, itu.

Awalnya, Mutiara merupakan salah satu kelompok elit. Selain menjadi dosen di UI, suaminya juga pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Lalu, situasi berubah 180 derajat saat Djoko mulai sakit-sakitan memasuki tahun 1960. Jelas, sakitnya tulang punggung keluarga membuat roda perekonomian berhenti.

Alhasil, Mutiara harus putar otak mencari uang. Menurut Albertine Endah dalam Sang Burung Biru (2012), dia lantas berbisnis bemo dan jualan telur. Hasil keuntungan itu dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai pengobatan suaminya hingga sekolah anak-anaknya.

Saat suaminya meninggal pada 6 September 1965, Mutiara bertindak sebagai kepala keluarga yang menghidupi tiga anaknya yang masih kuliah, antara lain Purnomo, Chandra, dan Mitarsih. Alhasil, dia harus kerja keras mencari uang agar tidak jatuh miskin.

Selain tetap menjalankan bisnis telur, tiba-tiba Mutiara mendapat hadiah dua mobil bekas dari PTIK, yakni sedan Opel dan Mercedez. Dari dua mobil itulah Mutiara terbersit ide cemerlang, yakni menjadikannya sebagai taksi.

Mutiara melihat bisnis taksi kala itu berpeluang tumbuh besar. Sebab, masyarakat kala itu banyak yang belum memiliki mobil, sehingga mereka pilih sewa. Namun, bisnis sewa mobil alias taksi masih dilarang negara. Artinya, ide Mutiara itu sama saja melawan negara.

Namun, itu tetap dilakukan untuk mendapatkan uang. Alhasil, dua mobil itu jadi taksi illegal. Kedua anaknya, Chandra dan Purnomo, ikut menyupir. Mereka menerima panggilan sewa berdasarkan telepon.

Usaha ini kemudian dinamai sebagai Chandra Taksi yang bermarkas di kediaman Mutiara, Jl. H.O.S Cokroaminoto No. 107 pada 1965.

Bisnis taksi gelap Mutiara perlahan menjadi 60 mobil. Namun, sempat mandek memasuki tahun 1971. Penyebabnya karena pemerintah DKI Jakarta mulai melarang pengoperasian taksi gelap. Seluruh taksi harus mendapat izin. Dan untuk memperoleh itu, perusahaan harus memiliki minimal 100 armada.

Beruntung, ada perusahaan dari murid suaminya, Udatimex, yang mau berinvestasi. Dari kerjasama itu, Mutiara mampu menambah kekurangan armada dan mendapat izin pemerintah. Dalam izin itulah Mutiara mengajukan merek bernama “Blue Bird” yang berdiri pada 1 Mei 1972.

Mutiara memberi nama Bluebird karena terinspirasi dari dongeng Eropa ‘Bird of Happiness’ atau Burung Pembawa Kebahagiaan. Untuk menjalankan Blue Bird, Mutiara punya teknik khusus. Seluruh armadanya ditempatkan di hotel-hotel internasional dan bandara. Selain itu di setiap mobil dilengkapi radio supaya hotel-hotel itu dapat mudah menghubungi Blue Bird.

Dari strategi sederhana itu, Blue Bird sukses ‘membirukan’ jalanan ibukota. Dalam Sang Burung Biru (2012), tercatat memasuki tahun 1980-an, sudah ada 500 taksi dan di tahun 1985 mencapai 2000 armada. Sejak itulah Blue Bird menjadi ‘raja’ taksi di Indonesia hingga bertahun-tahun.

Perlahan, Blue Bird juga menaungi beberapa perusahaan taksi, seperti Silver Bird, Big Bird, dan Golden Bird. Saat Mutiara meninggal pada tahun 2000, bisnis Blue Bird dilanjutkan anak-anaknya.

Namun, tak selamanya Blue Bird berjaya. Barangkali, titik terendah bisnis Blue Bird terjadi ketika taksi online merajalela.

Pada 2016, taksi Blue Bird tak lagi jadi ‘raja’. Masyarakat lebih memilih ke taksi online yang lebih murah dan banyak promo. Tercatat di tahun tersebut saham Blue Bird anjlok. Armadanya pun banyak yang dipangkas. Sejak itulah, Blue Bird kembali berbenah dan berinovasi, salah satunya dengan bekerjasama dengan Go-Jek.

Setelah mengalami keterpurukan, Blue Bird dikabarkan mulai bangkit.

Emiten taxi PT Bluebird Tbk. (BIRD) dikabarkan mendapat laba bersih sebesar Rp 364 miliar pada 2022. Angka ini meningkat lebih dari 40 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya di angka Rp9 miliar. Bahkan pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan periode pra-pandemi di tahun 2019, ketika Bluebird mencetak keuntungan sebesar Rp 317 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*