Pergi Merantau, Sampai Jakarta Jadi Raja Restoran Padang RI

Lemonilo rendang kolaborasi dengan Restoran Padang Sederhana

Masa kecil Bustamam tak seperti anak-anak lain seusianya. Pria kelahiran 1942 ini menghabiskan 10 tahun kehidupan pertamanya dengan dirundung malang. Saat usia 6 tahun dia ditinggal meninggal ibunya. Sejak itu Bapaknya nikah lagi dan pergi entah kemana. Alhasil dia hidup sebatang kara bersama kakak dan adiknya di kampung Lintau Buo, Tanah Datar. Nahas, empat tahun kemudian rumah yang ditempatinya rata dengan tanah akibat longsor.

Pada Februari 1954, Bapaknya tiba-tiba datang menjemput Bustamam untuk pergi ke Riau. Di tanah rantau pertamanya itu dia menjadi petani karet untuk menghidupi keluarga. Namun, dia tak lama di Riau. Setelahnya, Bustamam diajak saudaranya ke Jambi. Di kota inilah perjalanan hidup sesungguhnya di mulai.

Sebagaimana dipaparkan Hasril Chaniago dalam Kisah Hidup Haji Bustamam Pendiri Restoran Sederhana (2019), pada 1955, atau di usia 13 tahun, dia bekerja sebagai kernet angkot. Panasnya terik matahari tak menyurutkan langkahnya untuk mendapat uang. Setelah jadi kernet angkot, dia mencoba berjualan rokok.

Di Jambi banyak para pekerja yang menjadikan rokok sebagai “temannya”. Alhasil, ini adalah peluang usaha besar bagi Bustamam. Dia menjual rokok Dji Sam Soe 234 dan laku keras. Hingga akhirnya, dia bisa membeli barang baru dari bisnis rokok. Namun, karena di Jambi ada konflik dia banting setir untuk bekerja di warung makan Padang milik kenalan saudaranya pada 1960-an.

Di sana, Bustamam banyak membantu. Mulai dari cuci piring, tukang masak, pelayan, sampai membeli bahan pangan. Warung Padang ini bernama “Sederhana”. Bekerja di Sederhana membuatnya paham seluk-beluk berbisnis restoran. Setelahnya, dia makin mantap untuk hidup dari warung makan ke warung makan lain. Bermodalkan itu dia nekat merantau ke Ibu kota negara yang kehidupannya dinilai lebih menantang.

Mengutip buku Sukses Bisnis Rumah Makan Padang (2009), pada 1970 dia datang ke Jakarta bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Awalnya dia jualan rokok di Pejompongan secara asongan. Namun, karena sering dipalak preman dan jadi incaran Satpol PP dia memilih bisnis warung makan Padang.

Awalnya dia berjualan lewat gerobak di atas trotoar dan samping got kotor, sekitar Bendungan Hilir (Benhil), pada 1972. Nama warungnya adalah “Rumah Makan (RM) Sederhana”.  Meski kelihatannya jorok, dagangannya laris manis karena lezat dan yang terpenting murah. Banyak pegawai yang menikmati masakan padangnya setiap istirahat kerja. Cuan pun datang secara cepat. Sayang, tak lama kemudian gerobaknya disita Satpol PP. Alhasil, dia memilih untuk sewa lahan di Benhil, dan lagi-lagi laku keras.

Setelahnya dia melebarkan bisnis dengan mendirikan cabang di RM Singgalang Jaya di Roxy pada 1975 dan RM Sederhana di Pasar Sunan Giri, Rawamangun pada 1978.  Karena berada di pusat keramaian, kedua restoran itu laris manis. Seluruh masakan padang ludes dalam sekejap. Keuntungannya sangat besar.

Bustamam makin gila-gilaan membuka cabang. Dia sudah menemukan target pasar tersendiri. Baik Sederhana atau Singgalang Jaya berbeda dengan RM Padang pada umumnya. Dia berukuran besar, bisa diduduki sampai 60 kursi, bersih, dan nyaman. Karenanya, sering didatangi oleh orang kelas menengah ke atas.

Sejak tahun 1980 sampai 1990-an, dia punya dua kerajaan RM Padang, yakni RM Singgalang Jaya dan RM Sederhana. RM Singgalang Jaya khusus berada di Matraman, Tanah Abang, dan Jati Negara. Sementara, Sederhana melekat di cabang Rawamangun dan Benhil.

Namun mulai 1994, seluruh cabangnya menggunakan RM Sederhana.

Seluruh restoran miliknya tak ada yang sepi. Alias laris manis. Selain punya target pasar tersendiri, ini juga disebabkan karena dia punya strategi sendiri membangun cabang berdasarkan adat Minangkabau.

Seluruh cabangnya dibuka bukan dengan sistem franchise, melainkan lewat bagi hasil.

“Dengan sistem bagi hasil, pendapatan pekerja ditentukan oleh laris atau tidaknya rumah makan. Karena itu, mereka pasti punya tanggung jawab untuk membuat restorannya laris. Mereka akan menjaga mutu, rasa masakan, dan pelayanan yang baik. Secara sadar mereka akan menggenjot sendiri RM Sederhana hingga menarik banyak pengunjung,” tulis Hasril Chaniago.

Cara ini terbukti berhasil. Sejak 1990, sudah ada puluhan RM sederhana di Jabodetabek. Kini, RM Sederhana memiliki 200 cabang di seluruh tanah air. Bahkan sudah ada di luar negeri seperti Malaysia. Keberhasilan membangun gurita bisnis nasi padang membuat Bustaman layak dijuluki Raja Restoran Padang Indonesia, bahkan Raja Restoran Padang Asia Tenggara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*