Jurus GOTO Cs Agar Untung Bisa Bikin Krisis Ojol, Kok Bisa?

Sejumlah pengemudi Gojek bersiap untuk mengendarai motor listrik usai peresmian shelter motor listrik G20 di kawasan pariwisata ITDC Nusa Dua, Bali, Rabu (19/10/2022). Sebanyak 50 motor listrik dengan merek Gesits dan Gogoro disediakan Electrum untuk armada ojek online (ojol) Gojek dalam penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Indonesia, yang akan berlangsung pada 15-16 November 2022 mendatang di Nusa Dua, Bali. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Sepanjang tahun lalu emiten teknologi hasil merger dua raksasa startup RI, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), mencatatkan kenaikan pendapatan kotor dari segmen on-demand ditopang oleh kenaikan potongan komisi dari para pengemudi dan gross transaction value (GTV) yang juga ikut meningkat.

Segmen on-demand GOTO sendiri terdiri dari ojek online, pengiriman makanan dan bisnis logistik.

Tahun lalu kenaikan gross transaction value (GTV) bisnis on-demand naik 22% menjadi Rp 61,6 triliun. Sementara itu pendapatan kotor perusahaan tumbuh lebih cepat dari GTV atau melonjak 33% karena peningkatan potongan yang diperoleh dari pengemudi.

Melansir data presentasi kinerja GOTO, take rate atau potongan komisi yang dibebankan kepada mitra pengemudi naik menjadi 22% di tahun 2021 dari sebelumnya sebesar 20,4% pada tahun 2021.

Kenaikan ini merupakan salah satu strategi utama GOTO untuk dapat segera mencapai tingkat profitabilitas, yang oleh manajemen kunci perusahaan dapat tercapai akhir tahun depan.

Tahun lalu, meski pendapatan perusahaan naik 120% secara tahunan menjadi Rp 11,3 triliun. GOTO masih membukukan kerugian bersih Rp 40,4 triliun atau naik 56% dari tahun sebelumnya.

GRAB Ambil Strategi Serupa

Kompetitor utama Gojek di bisnis on-demand, Grab juga mengambil langkah dan pendekatan serupa untuk meningkatkan profitabilitas. Perusahaan Singapura yang melantai di Wall Street tersebut menargetkan bisnisnya mampu breakeven pada semester ke-2 tahun 2024 atau lebih cepat 6 bulan dari target GOTO.

Strateginya terbagi dalam tiga aspek beban yang harus diefisiensikan, salah satunya adalah dengan memfokuskan bisnisnya pada segmen bisnis yang memiliki komisi lebih tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan take rate dan nominal pendapatan dengan nilai terbesar. Bisnis yang kurang optimal dapat diefisiensikan dan beban yang tidak perlu dapat berkurang.

Akan Ada Krisis Ojol?

Strategi bisnis dengan menaikkan potongan biaya merupakan langkah penting yang harus diambil oleh pihak perusahaan demi memastikan agar bisnis dapat memperoleh keuntungan. Akan tetapi hal ini dapat menjadi disinsentif bagi pengemudi yang pendapatannya terus terkikis karena kenaikan take rate.

Perusahaan sebenarnya bisa saja menaikkan tarif sembari menjaga take rate tetap rendah. Namun langkah ini juga bisa menjadi boomerang bagi masyarakat Indonesia yang sangat sensitif akan perubahan harga.

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia Igun Wicaksono menjelaskan potongan besar dan pendapatan yang tak sebesar dulu membuat masyarakat tidak antusias menjadi pengemudi lagi. Fenomena yang berbeda dari sekitar tahun 2016, saat banyak orang berbondong-bondong beralih profesi menjadi driver ojol.

Melansir data presentasi kinerja GOTO, take rate atau potongan komisi yang dibebankan kepada mitra pengemudi naik menjadi 22% di tahun 2021 dari sebelumnya sebesar 20,4% pada tahun 2021.

Kenaikan ini merupakan salah satu strategi utama GOTO untuk dapat segera mencapai tingkat profitabilitas, yang oleh manajemen kunci perusahaan dapat tercapai akhir tahun depan.

Tahun lalu, meski pendapatan perusahaan naik 120% secara tahunan menjadi Rp 11,3 triliun. GOTO masih membukukan kerugian bersih Rp 40,4 triliun atau naik 56% dari tahun sebelumnya.

GRAB Ambil Strategi Serupa

Kompetitor utama Gojek di bisnis on-demand, Grab juga mengambil langkah dan pendekatan serupa untuk meningkatkan profitabilitas. Perusahaan Singapura yang melantai di Wall Street tersebut menargetkan bisnisnya mampu breakeven pada semester ke-2 tahun 2024 atau lebih cepat 6 bulan dari target GOTO.

Strateginya terbagi dalam tiga aspek beban yang harus diefisiensikan, salah satunya adalah dengan memfokuskan bisnisnya pada segmen bisnis yang memiliki komisi lebih tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan take rate dan nominal pendapatan dengan nilai terbesar. Bisnis yang kurang optimal dapat diefisiensikan dan beban yang tidak perlu dapat berkurang.

Akan Ada Krisis Ojol?

Strategi bisnis dengan menaikkan potongan biaya merupakan langkah penting yang harus diambil oleh pihak perusahaan demi memastikan agar bisnis dapat memperoleh keuntungan. Akan tetapi hal ini dapat menjadi disinsentif bagi pengemudi yang pendapatannya terus terkikis karena kenaikan take rate.

Perusahaan sebenarnya bisa saja menaikkan tarif sembari menjaga take rate tetap rendah. Namun langkah ini juga bisa menjadi boomerang bagi masyarakat Indonesia yang sangat sensitif akan perubahan harga.

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia Igun Wicaksono menjelaskan potongan besar dan pendapatan yang tak sebesar dulu membuat masyarakat tidak antusias menjadi pengemudi lagi. Fenomena yang berbeda dari sekitar tahun 2016, saat banyak orang berbondong-bondong beralih profesi menjadi driver ojol.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*