Impor Tertahan, KRL Sudah Uzur Dipaksa Jalan?

TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA - 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is the first stage of the delivery program for the procurement of 176 units of KRL 2014. (Photo by Garry Andrew Lotulung/Pacific Press/LightRocket via Getty Images)

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengajukan izin untuk mengimpor KRL bekas dari Jepang. Alasannya, ada 16 train set atau rangkaian KRL Jabodetabek yang harus dipensiunkan pada 2023 dan 2024.

Sayangnya impor KRL bekas Jepang masih tertahan karena belum mendapatkan izin rekomendasi Kementerian Perindustrian. Apabila tidak ada kejelasan terkait impor KRL bekas Jepang, ada kemungkinan KRL sudah uzur yang harusnya dipensiunkan akan dipaksa jalan. Apakah ini tidak berbahaya?

“Kalau gak boleh (diizinkan impor) kemungkinan dua, pertama kereta lama gak dioperasikan, kedua dioperasikan. Kalau gak dioperasikan makin banyak penumpang yang terlantar, kalau dioperasikan keselamatan siapa yang mau jamin? kan barangnya udah usang, khawatir patah lah anjlok,” ungkap Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno kepada CNBC Indonesia, Senin (6/3/2023).

Djoko bilang apabila impor KRL bekas Jepang tak dilakukan, maka dampaknya bisa mengerikan. Jumlah penumpang KRL yang membludak ditakutkan terlantar yang bikin suasana stasiun semakin padat. Kalaupun menggunakan KRL yang harusnya dipensiunkan, maka risikonya bisa berbahaya bagi penumpang.

“Kondisi sudah kritis, kan takut. Kalau dipakai Kemenperin harus tanggung jawab pada kecelakaan, mau dia tanggung jawab? atau kalau gak digunakan, sekarang aja kapasitas sudah mangkit-mangkit, apalagi tambah masalah Manggarai,” sebutnya.

Sementara itu, Vice President Corporate Secretary KCI Anne Purba memastikan KRL yang tak lulus maintenance tidak akan mendapatkan izin jalan. Faktor keselamatan penumpang menjadi prioritas.

“Selama maintenance kami sudah tidak memenuhi untuk safety, pasti kereta-kereta tersebut tidak akan dijalankan,” sebutnya.

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo belum mau buka suara terkait hal ini. Ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi. Didiek mengungkapkan belum ada pertemuan untuk membahas soal KRL bekas impor Jepang.

“Belum ada. Yang dibahas belum ada. (baru) Diskusi aja. Belum dibahas kok, belum ada apa-apa,” sebut Didiek.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*