Bukan BBM & Batu Bara, Ini Sektor Penyokong Emisi Terbesar RI

Faisal Basri & Rizal Ramli: Ekonomi RI Mandek di 5% (CNBC Indonesia TV)

Indonesia sedang berjuang mengurangi bahan bakar fosil seperti misalnya batu bara dan juga bahan bakar minyak (BBM). Usaha yang dilakukan seperti dengan memensiunkan dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara, transisi penggunaan kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik, dan beralih ke energi ke energi baru terbarukan (EBT).

Tapi ternyata, di Indonesia sendiri penyumbang emisi karbon terbesar bukan datang dari BBM maupun batu bara. Hal https://www.rtpkas138.xyz/ tersebut seperti yang dikatakan oleh Ekonom Senior Faisal Basri.

Faisal Basri mengungkapkan bahwa Indonesia justru paling besar menyumbang emisi karbon pada sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU) yang mana menyumbang emisi karbon hingga 55%.

“Di Indonesia (emisi karbon dari) energi cuma 14%. Lagi-lagi memerangi efek rumah kaca dilihat dari kontributor terbesar apa. Disini kita lihat kontribusi terbesar AFOLU di Indonesia. Di Vietnam (emisi terbesar) listrik, di China listrik, jadi mereka gedor yang sumbangan terbesar,” jelas Faisal pada Diskusi Publik Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dikutip Selasa (23/5/2023).

Dia menyebutkan bahwa sektor kelistrikan merupakan sektor kedua penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia. Yang mana, bila dibandingkan, emisi dari AFOLU jauh lebih banyak dari sektor kelistrikan yang hanya sebesar 14%.

“Kedua energi. Jadi lebih besar AFOLU. Kenapa ya, kalau mau green economy yang diselesaikan pertama bukan AFOLU?,” tambah Faisal.

Lebih lanjut, Faisal membeberkan bahwa pada sektor AFOLU ada sebesar 3 juta lahan sawit ilegal. Faisal menilai lahan sawit ilegal tersebut seharusnya dimanfaatkan sebagai hutan, bukan untuk lahan perkebunan. “Seperti misalnya lahan sawit merambah 3 juta hutan secara ilegal. 3 juta lahan sawit menggunakan lahan hutan yang tidak boleh digunakan untuk komersial,” tegas Faisal.

Seperti diketahui, pemerintah dalam mengurangi sumbangan emisi karbon di Indonesia telah menggelontorkan subsidi motor listrik Rp 7 juta per unit per 20 Maret 2023 lalu dan rencana pengurangan pajak untuk mobil listrik yang ditargetkan berlaku per 1 April 2023.

Meski pemerintah menggencarkan pemakaian kendaraan listrik, namun ternyata konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) RI sampai 2030 diperkirakan masih tinggi, yakni setidaknya mencapai 1,5 juta barel per hari (bph).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*